Rabu, 15 Juli 2009

- egalitarianisme Rosulullah s.a.w

Kalau Rasulullah saw tampaknya lebih mengutamakan para penggede Quraisy itu (yang di antaranya adalah paman beliau) karena beliau memiliki maksud yang besar. Yaitu supaya mereka bisa menarik gerbong-gerbong untuk masuk Islam. Bukan karena berharap pada kekayaan atau segan pada kebesaran mereka. Toh beliau masih dicela oleh Allah.

Itu tidak lain, pertama, karena maqam beliau yang begitu tinggi. Kedua, sebagai penggemblengan akhlak dari Allah SWT. Dalam satu hadis, beliau diriwayatkan bersabda, �Allah menggemblengku adab (akhlak), dan Dia menyempurnakan gemblengan-Nya padaku,� demikian sabda Rasulullah s.a.w. Wahyu di atas merupakan salah satu contoh gemblengan Allah kepada beliau. Betapa hebatnya gemblengan itu.

Berkat gemblengan Allah itulah beliau memiliki akhlak yang agung, seperti beliau dipuji dalam Al-Quran. Kepedulian, pengorbanan dan cinta beliau kepada semua orang sangat besar. Seperti diceritakan dalam satu hadis, di akhir hayat beliau, beliau punya kebiasaan memberi makan kepada seorang pengemis buta yang beragama Yahudi, yang mulutnya begitu tajam, suka mencela dan menghina beliau. Pengemis Yahudi itu tak tahu, yang memberi makan dia setiap hari adalah orang yang setiap hari dicelanya itu.

Beliau tak membeda-bedakan antara satu dan lain orang. Misalnya, cinta dan perhatian beliau Ibnu Mas�ud r.a. yang asli Arab dari Mekah dan kepada Bilal serta Salman Alfarisi, yang berasal dari kaum budak dan non-Arab, sama besarnya. �Tidak ada keunggulan bagi orang Arab atas orang non-Arab,� sabda beliau. Dalam hadis lain beliau bersabda, �Kalau orang kulit hitam menjadi pemimpin kamu, kamu harus menaatinya.�

Alhasil, tak boleh ada diskriminasi ras. Juga tak boleh ada perlakuan yang berbeda kepada orang-orang karena beda kekayaan atau beda pangkat. Beliau sangat mencela dan menyatakan haram hadir pada acara di mana yang diundang hanya orang kaya. Beliau juga sangat mencela rumah yang dikunci bagi orang-orang miskin karena takut dimintai sesuatu.

Untuk diskriminasi ras, mungkin hanya sedikit dari kita yang melakukannya. Setidaknya tokoh-tokoh agama sudah tidak lagi menyimpan pikiran demikian. Tetapi diskriminasi berdasar kekayaan dan pangkat, seringkali orang lalai dengan ini. Tak sedikit dari kita yang menerapkan sikap berbeda ketika bertemu dengan kaya atau berpangkat di satu pihak, dan orang miskin atau rakyat jelata di pihak lain. Penyakit demikian tak jarang juga menghinggapi para tokoh agama kita. Terutama di zaman ketika banyak tokoh agama yang getol menerjuni panggung politik (entah sebagai broker atau lainnya). Misalnya, ketika ada pejabat datang, penyambutan yang diberikan luar biasa. Sampai-sampai tamu lain tidak terlayani.

Para pejabat juga sangat rawan terhinggapi penyakit ini. Sudah lama ada keluhan bahwa para pejabat eksekutif dan legislatif, ketika musimnya kampanye, begitu dekat dengan rakyat miskin. Tapi begitu sudah jadi, mereka membuat jarak dengan rakyat kebanyakan. Rumah mereka pun sering terkunci untuk mereka.

Di bulan Maulid ini, ada baiknya kita bercermin diri pada cermin Rasulullah s.a.w. Tirulah beliau. Atau tirulah para pewaris beliau, yang telah menghidup-hidupkan sunnah beliau, seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Tidak ada komentar: