Rabu, 15 Juli 2009

- pudarnya pesona cleopatra


Good Story……..

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak p erna h kukenal.
" Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren
Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.
"Kami p erna h berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan.
Karena itu ibu mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah.
Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu.
Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus
mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu.
Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang
datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.
Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon
istriku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat
kucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida
adikku, ia memang baby face dan anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia.
Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan
gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai,
wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening
khas arab, dan bibir yang merah.
Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan
bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.

Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana.
Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana
tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta.
Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas
baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya! Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk
mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang
terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku.

Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan
shalat bersama dengan makhluk yang b erna ma Raihana, istriku,
tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut
terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.
Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan,
rasa ini muncul begitu saja.

Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri
sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai.
Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh,
agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya,
tetapi kujawab " tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa,
mungkin masih harus belajar berumah tangga"
Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', "
kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak
mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam"
jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia
terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak
menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam
tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak
bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini". Raihana mengiba penuh pasrah.

Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena
kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak
berjalan.
Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku
menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib, bibirku pucat,
perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana
tadi pagi,
Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.
Raihana
memandangiku dengan khawatir.
"Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan
air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih"
lanjutnya.

Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata
Raihana.
Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa
membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa
handuk.
"Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual
dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan
memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu.
" Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai
balsam, minyak putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku ke
kamar.
"Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan
untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih.
" Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana
sambil tangannya melepas kaosku.
Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar
mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.
Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang
hijau.
Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk
di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan
khusyu.
Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis
gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk
makan malam di istananya."
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu" kata Ratu Cleopatra. "
Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok
dan berniat memperkenalkannya denganmu".
Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana,
kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali.
Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah
jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku.
Aku terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas
kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas
mukenanya,
mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun cuman mimpi tapi itu
indah sekali, tapi sayang terputus.

Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan
mimpi-mimpiku.
Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk
sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana sulitnya.
Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam
suasana konyol.

Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum p erna h jatuh cinta,
entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu.
Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang
dieluk-elukan keluarga tidak datang"
Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan
segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Ma..maaf
jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya,
lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh
maaf, maksudku D..Din.Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak
dalam tenggorokan.
" Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia
bahagia dipanggil "dinda".
" Matanya sedikit berbinar. "Te.terima kasih.Di.dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap
wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum
bersinar dibibirnya.
" Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas,
biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?".
Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap
sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya
selama ini.

Aku belum p erna h melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku.
Kalau wajah sedihnya ya.
Tapi wajah tidak sukanya belum p erna h. Bah, lelaki macam apa aku ini,
kutukku pada diriku sendiri.
Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi,
setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun.
Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku
merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami.
Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh
cinta, dan penuh bangga.
" Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal dalam keluarga!
Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan ubundaku serta
kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia.
Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya
yang ideal.

Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan
hafal Al Quran lantas disebut ideal?
Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa
cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain.
Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta
yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki
Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat.
Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku di mata keluarga.
Pada ibuku dan semuanya tidak p erna h diceritakan, kecuali menyanjung
kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.
Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat
pusing dengan sikapku.
Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang
keturunan.
" Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya
ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku.
" Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku
tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan.
Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan
kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku
Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang
istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung tiba.

Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam
dan mendesah sedih.
" Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku. Dan akhirnya
datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam.
Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas an
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak
menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.
Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya
kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM.
Aku taruh dibawah bantal, no pinnya sama dengan tanggal pernikahan
kita". Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega.

Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman.
Entah apa sebabnya bisa demikian.
Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
Tapi toh bukan
masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku
pulang kehujanan.

Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas.
Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual.
Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin
dengan mengeroki punggungku,
lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu
aku benar-benar tersiksa dan menderita.

Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan
dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh.
Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan
sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan
mutu dosen mata kuliah bahasa arab.

Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi
banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.
Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen
bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir.
Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan
terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa".
" Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak
saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah.
Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?".
"P erna h, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran".
" Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?"
" Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan
orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang".
" Bagaimana itu bisa terjadi?". " Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu
cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita
seperti ini.

Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya
berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua.
Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga.
Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan
predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat saya tinggal menyukai saya.
Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang b erna ma Yasmin. Dia tidak
pakai jilbab.
Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum p erna h melihat gadis
secantuk itu.

Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan.
Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas,
akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan
dengan menikahinya.
Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman
yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir,
kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah,
dan berjilbab.

Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan
agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya.
Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut
diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai
S1 saya kembali ke MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual
untuk modal di Indonesia.

KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan.
Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin
mengajak ke Mesir menengok orang tuanya.
Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin.
Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga
lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah.
Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun
sekali YAsmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak
terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal.
Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat
teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan
istrinya.

Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai
masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.
Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu
dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan
namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka.
Puncak penderitaan saya d imul ai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut,
saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau.

Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan
sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah
diperbudak dengan kecantikannya.
Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka
menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil
dan sempit.

Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis
bisnis saya yang bangkrut.
Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir.
Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan.
" Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan
aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir".
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia
bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya.
Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan.
Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya
dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya
yang membelaku.

Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita
bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi.
Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus
mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya.
Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya
pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana.
Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku
berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati.
Dia istri yang sangat shalehah. Tidak p erna h meminta apapun. Bahkan yang
keluar adalah pengabdian dan pengorbanan.
Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun
hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala
didindingnya.

Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya?
Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan.
Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi.
Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.

Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil
uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.
Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku
terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum p erna h membuat surat
cinta untuk istriku.
Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila!
Jangan-jangan istriku serong..Dengan rasa takut kubaca surat itu satu
persatu.

Dan Rabbi.ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang
selama ini aku zhalimi.
Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan
belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar
biasa.
Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah,
ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. "Rabbi dengan penuh
kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb.
Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu
yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.

Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba.." tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang
kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan
derita jiwa ini kehadirat-Mu.
Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan
kepayahan Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan
menelantarkanku.

Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku
padanya. Masih kurang apa baktiku padanya?
Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu
ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita.

Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya
Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.
Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu.
Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu.
Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini.
Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang.
Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang
tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh
memeluk kakiku,
semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan
terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku.

Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang
datang di hati.
Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam
hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata.
Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut
kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes
sepanjang jalan.
Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan
dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?".

Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa
sebenarnya yang telah terjadi.
" Raihana.istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya". " Ada apa
dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telah
meninggal seminggu yang lalu.
Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan
bayinya tidak selamat.

Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala
kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau
meridhionya".

Hatiku bergetar hebat. " Ke.kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?".
" Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang
untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada.
Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak
ingin mengganggumu.
Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama
pelatihan.

Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk.
Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin
menebus dosaku, dia telah meninggalkanku.
Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan
aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan
tersenyum padanya.

Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada
terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan
pinggir desa.
Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana
tertulis disana.
Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar
biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua...

Tidak ada komentar: